Salah satu guru SMA Negeri 5 Purworejo, Nurchabibah, berkesempatan mengikuti program mengajar kelas internasional di Thailand. Guru yang akrab disapa Bu Bibah ini merupakan pengampu mata pelajaran Geografi di SMAN 5 Purworejo.
Bu Bibah bukanlah sosok baru dalam kegiatan internasional. Sejak tahun 2018, ia telah aktif sebagai relawan media dan public relation Asian Games. Kemudian pada tahun 2024, ia berhasil mengikuti kursus pendidikan online di Harvard University, Amerika Serikat. Berbagai pengalaman tersebut menjadi bekal berharga dalam mengembangkan kapasitas diri dan memperkuat semangatnya untuk terus menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Program pengalaman mengajar internasional di Thailand dilaksanakan pada 26 Oktober – 1 November 2025. “Kegiatan pembelajaran di sana sangat menyenangkan karena ada sesi interaksi indoor dan outdoor yang disusun dengan menarik,” ujar Bu Bibah.

Selama kegiatan, peserta mengikuti berbagai agenda menarik. Pada hari pertama, para guru diajak mengenal lingkungan sekolah dan mengikuti upacara pembukaan (opening ceremony). Hari kedua diisi dengan kegiatan Team Building “Work as One”, pembelajaran di kelas (Indoor Teaching Activity Classroom), pertukaran budaya (Cultural Exchange: My Culture), serta sesi bercerita kelompok (Telling Story Session).

Pada hari ketiga dan keempat, kegiatan beralih ke luar ruangan (outdoor activities) yang berfokus pada pembelajaran lingkungan dan budaya lokal. Peserta melakukan aktivitas di Desa Ban Lompeun untuk ekowisata, seperti penanaman mangrove, pembibitan kepiting (crab bank), mewarnai kain tie-dye, membersihkan pantai, hingga bernyanyi dan refleksi pengalaman. Kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan belajar ke Taman Nasional Mu Ko Phetra.

Pada hari kelima, peserta mempresentasikan hasil pembelajaran dalam bentuk Project Presentation (Performance), dan di hari terakhir seluruh peserta mengikuti city tour bersama.
Menurut Bu Bibah, pengalaman mengajar di Thailand memberikan banyak pelajaran berharga, terutama dalam memahami keragaman karakter dan gender peserta didik. “Hal yang mengesankan adalah terciptanya keharmonisan dalam pembelajaran meskipun murid memiliki latar belakang yang beragam,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan, meskipun sekolah tempatnya mengajar di Thailand memiliki dasar pendidikan Islam, mereka sangat menghargai perbedaan dan memberikan ruang bagi keberagaman gender. “Sekolah ini mengakomodasi adanya tiga gender, dan tetap membangun suasana belajar yang saling menghormati,” tambahnya.
Melalui pengalaman ini, Bu Bibah berharap dapat membawa semangat keterbukaan dan inovasi pembelajaran global ke lingkungan SMAN 5 Purworejo, serta menginspirasi guru dan siswa untuk terus mengembangkan diri di kancah internasional.