Pelatihan Fasilitator Dukungan Psikososial untuk Anak dan Orang Muda

Save the Children Indonesia bersama Children and Youth Advisory Network (CYAN) mengadakan “Pelatihan Fasilitator Dukungan Psikososial untuk Anak dan Orang Muda”, pada tanggal 25 – 30 September 2022. Kegiatan diawali dengan proses pendaftaran yang dimulai sejak Juli 2022 melalui postingan media sosial Instagram Save the Children Indonesia dan jejaring organisasi. Dengan kriteria peserta yang mempunyai minat dalam isu anak, orang muda, perubahan iklim, kesiapsiagaan bencana, respon bencana, kesehatan, dan pendidikan. Dari sekitar 400 lebih pendaftar yang berasal dari usia anak dan orang muda (16-22 tahun), setidaknya ada 31 orang yang lolos seleksi untuk mengikuti pelatihan. Salah satunya adalah siswa dari SMA Negeri 5 Purworejo yaitu Jessee Yuliana Suriadiningrat.


Kegiatan berlangsung selama sepekan di Bogor dengan selalu mematuhi protokol kesehatan. Dimana peserta diberi modul sebagai acuan pelatihan sepekan. Isi modul beragam mulai dari pembahasan tentang macam-macam stress dan reaksi stress, bagaimana cara menghadapinya, dan banyak hal lainnya, seperti perilaku hidup bersih dan sehat. Modul tersebut dipersiapkan agar peserta dapat pelajari dan praktikkan selama pelatihan sepekan.


Hal yang menarik adalah pelatihan ini tidak hanya berisi interaksi antara tim Save the Children dan fasilitator terhadap peserta saja, namun juga berbagai interaksi kelompok seperti kegiatan praktik dan diskusi antar peserta. Jadi peserta dapat saling bertukar pikiran dan pengalaman, sehingga menambahkan nilai baru dalam pelatihan ini.


Melalui kegiatan ini, Save the Children berupaya menjangkau anak-anak atau keluarga terdampak bencana untuk memulihkan atau mengurangi kemungkinan kondisi yang lebih buruk terjadi pada keluarga dan anak-anak. Dengan menghadirkan peserta yang tersebar di seluruh Indonesia, Save the Children bertujuan menyiapkan anak-anak dan orang muda menjadi fasilitator PSS bagi anak-anak yang membutuhkan dukungan psikososial awal, termasuk masalah kebersihan dan kesehatan dalam situasi bencana.


Peserta berharap melalui pelatihan ini mereka bisa membawa wawasan tentang psikososial ke daerah masing-masing, terutama bagi anak-anak dan keluarga yang membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitarnya. (Jesse)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *