Purworejo – 2 Oktober 2025, Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperkuat budaya literasi di lingkungan sekolah, SMAN 5 Purworejo menyelenggarakan kegiatan In House Training (IHT) bertema “Peningkatan Kompetensi Guru untuk Memperkuat Literasi” pada tanggal 1–2 Oktober 2025. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan SMAN 5 Purworejo sebagai bagian dari program pengembangan profesional berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Kepala SMAN 5 Purworejo, Dra. Setyo Mulyaningsih, M.Pd.B.I., menegaskan bahwa literasi tidak hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi dalam konteks pembelajaran abad 21.
“Guru yang melek literasi akan mampu menumbuhkan budaya berpikir kritis, kreatif, dan reflektif pada siswanya. Literasi menjadi dasar bagi pembelajaran bermakna yang menyiapkan peserta didik menghadapi tantangan masa depan,” ungkap beliau.
Sebagai pembicara pertama, hadir Sri Budiningsih, S.E., M.M., Pustakawan Ahli Madya dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Purworejo. Beliau menguraikan peran penting perpustakaan dalam penguatan literasi, serta memperkenalkan berbagai fasilitas modern yang tersedia di Perpustakaan Umum Kabupaten Purworejo, yang berlokasi di Jl. Mardiusodo, Kutoarjo.
Sri Budiningsih menekankan bahwa perpustakaan kini tidak lagi sekadar tempat membaca buku fisik, tetapi telah berkembang menjadi pusat sumber belajar berbasis digital yang mendukung kebutuhan informasi masyarakat.
“Guru dan siswa perlu memanfaatkan fasilitas digital perpustakaan untuk memperluas wawasan. Literasi hari ini tidak bisa lepas dari kemampuan mengakses, menilai, dan menggunakan informasi secara bijak di dunia digital,” jelasnya.

Sesi berikutnya menghadirkan Dr. Umi Faizah, M.Pd., Kaprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Purworejo, dengan materi bertajuk “Peningkatan Kompetensi Guru untuk Memperkuat Literasi.”
Dalam pemaparannya yang inspiratif, Dr. Umi menekankan bahwa literasi bagi guru bukan sekadar aktivitas membaca dan menulis, melainkan fondasi berpikir kritis dan kreatif dalam proses pembelajaran. Guru literat, menurutnya, adalah guru yang mampu mengaitkan teks dengan konteks kehidupan nyata siswa, mengubah informasi menjadi pengetahuan, dan menuntun peserta didik untuk menjadi pembelajar mandiri.
Lebih lanjut, Dr. Umi menjelaskan bahwa guru memiliki peran strategis sebagai model literasi di sekolah. Ketika guru menunjukkan kebiasaan membaca, menulis reflektif, dan berdiskusi, siswa akan meniru pola tersebut.
Beliau juga menyoroti pentingnya membangun lingkungan belajar yang literat, di mana setiap sudut sekolah memfasilitasi interaksi dengan sumber bacaan, ide, dan gagasan. Literasi, katanya, bukan sekadar kemampuan akademik, tetapi budaya yang membentuk karakter dan kecerdasan sosial.
“Guru harus menjadi sumber inspirasi literasi. Mulailah dari hal sederhana — membaca lima menit sebelum pelajaran, menulis refleksi pembelajaran, atau mengajak siswa berdialog kritis tentang teks. Literasi akan tumbuh jika dibiasakan, bukan sekadar diajarkan,” ujarnya penuh semangat.
Kegiatan IHT ini diharapkan mampu memperkuat semangat guru SMAN 5 Purworejo dalam menumbuhkan ekosistem literasi di sekolah, sejalan dengan visi kurikulum merdeka yang menekankan kemandirian belajar dan pengembangan karakter melalui pemahaman yang mendalam terhadap berbagai sumber pengetahuan.(pwt)